Edisi 1

By suaragerindra

Di Eropa, sapi-sapi disubsidi sebanyak 2 euro (sekitar 35 ribu) perhari sementara di negara kita —yang konon tongkat kayu dan batunya bisa jadi tanaman— ini, upah minimumnya saja belum mencapai angka itu. Bukankah itu artinya lebih baik menjadi sapi di Eropa dibanding jadi rakyat di Indonesia? Ini sebuah ironi.

Negara yang berazaskan Pancasila dan menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi malah membiarkan rakyatnya hidup di bawah kemiskinan. Pedagang kecil dan orang miskin diburu-buru  karena dianggap merusak wajah kota. Hasil panen petani ditumpuk dan dibiarkan busuk sementara beras, terigu dan kedelai terus diimpor dari luar. Dengan alasan globalisasi dan pasar bebas produk-produk makanan asing, mal-mal berlisensi luar negeri dibiarkan tumbuh di tengah kota dan pasar rakyat dibiarkan tergusur dan mati. Apakah ini yang namanya pembangunan untuk rakyat? Ada kesalahan besar di sini, dan untuk itu perlu diperbaiki. Arah perjuangan harus diluruskan. Saatnya mengembalikan arah perjuangan bangsa pada amanat UUD 1945. Untuk itu diperlukan wadah perjuangan bernama partai politik. Namun, sekadar partai politik saja tidak cukup. Kita memerlukan partai politik yang bukan hanya diisi para politisi tapi juga negarawan. Kita perlu partai politik yang betul-betul memperjuangkan kepentingan masyarakat menengah ke bawah, yang menjadi mayoritas di negeri ini. Karena itu, ketika Prof. Suhardi, Fadli Zon dan kawan-kawan lainnya yang peduli, bersepakat untuk mendirikan wadah perjuangan bagi kaum menengah ke bawah, sambutan langsung datang dari berbagai pelosok nusantara. Jutaan orang serentak berdiri dan menyatakan bergabung dalam perjuangan ini. Dalam tempo tiga bulan saja, 1,5 juta orang resmi terdaftar sebagai anggota partai. Partai baru yang luar biasa ini bernama Partai Gerakan Indonesia Raya atau  disingkat Gerindra.

Sebagai sebuah partai baru, Gerindra jelas memiliki agenda-agenda untuk mencapai tujuannya, membangun Indonesia yang berdaulat, baik secara politik maupun ekonomi. Agenda besarnya adalah merebut kepemimpinan nasional dan menguasai kursi-kursi di parlemen baik di parlemen pusat maupun di daerah-daerah secara konstitusional. Untuk itu kader-kader partai harus siap secara mental, intelektual maupun secara materil. Seperti pesan yang disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Fadli Zon dalam acara silaturrahmi DPD Partai Gerindra Sumatera Barat, para kader partai harus optimis. Sebab optimismelah yang akan membuat kita menjadi besar dan maju.

Selain agenda-agenda yang sifatnya politis, secara ideologis, Gerindra juga memiliki agenda dan arah perjuangan yang jelas. Sesuai dengan visi dan misi partai bahwa Gerindra hadir di tengah masyarakat karena terpanggil untuk memberi amal baktinya kepada negara dan rakyat Indonesia. Partai Gerindra adalah partai rakyat yang berjuang untuk tegaknya Pancasila, UUD 1945 dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Partai Gerindra adalah partai rakyat yang bertekad memperjuangkan kemakmuran dan keadilan di segala bidang.

Rakyat kecil, petani, nelayan, pedagang kecil, dan kaum lainnya yang termarjinalkan adalah warga bangsa yang memiliki tahta. Mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka, mencerdaskan mereka dan membuat kedudukan mereka sejajar dengan warga bangsa lain di seluruh dunia, inilah tugas utama kader-kader Gerindra. Bukan berladang di punggung mereka. Jangan sampai kader Gerindra terlibat dalam permainan politik kotor atau mempolitisir rakyat untuk kepentingan pribadi atau golongan. Jangan lagi menambah luka tetapi hadir untuk menyembuhkan luka rakyat. Buat jalan mereka lempang menuju cita-cita kesejahteraan bersama. 

Semoga agenda-agenda yang telah disusun dapat berjalan dan target yang ingin dicapai partai bisa diraih. Dan semoga kehidupan rakyat kita tidak lebih buruk dari sapi Eropa. God blessing You, Amin!!

Tag:

Tinggalkan Balasan